Drone Elang Hitam Pesawat Tanpa Awak Diproduksi Diindonesia.


Pemerintah Indonesia saat ini tengah membuatkan pesawat tanpa awak atau drone jenis Medium Altitude Long Endurance (MALE). Pesawat ini diberi nama Elang Hitam.
Proyek ini digawangi Kementerian Riset dan Teknologi, Badan Pengkajian serta Penerapan Teknologi (BPPT), Institus Teknologi Bandung (ITB), Kementerian Pertahanan, LAPAN dan beberapa Badan usaha Milik Negara (BUMN).
Drone Elang Hitam ini akan diproduksi sang PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Drone yg telah menerima Sertifikat Tipe dari Indonesia Military Airworthiness Authority (IMAA) ini ditargetkan bisa mengudara dan mulai beroperasi pada Januari 2021
mirip dilansir dari halaman PT di, Sabtu, 31 Oktober 2020, Elang Hitam mempunyai majemuk keunggulan. dengan panjang 8,tiga meter dan bentang sayap 16 meter kemampuan take off dan landing sekitar 700 meter dengan kemampuan terbang di ketinggian 20.000 feet.
Kecepatan maksimum drone ini mampu mencapai 235 kilometer per jam dengan lama terbang sekitar 30 jam.
Drone Elang Hitam pula bisa dioptimalkan fungsinya untuk kebutuhan surveillance dan sasaran acquisition yg bisa dipersenjatai menggunakan kemampuan short take off landing, maksimum endurance yaitu hingga 30 jam targetnya.
Penggunaan drone ini dilakukan buat mendukung kegiatan intelijen, supervisi, pengintaian serta penargetan (Intelligence, Surveillance, Reconnaissance and Targeting).
Drone ini dibutuhkan mampu menjaga kedaulatan NKRI, mengingat kebutuhan pengawasan udara terus bertambah seiring meningkatnya ancaman wilayah perbatasan, terorisme, penyelundupan, pembajakan, dan pencurian asal daya.
nisiasi pengembangan PUNA MALE ini telah dimulai oleh Balitbang Kemhan sejak tahun 2015 dengan melibatkan TNI, Ditjen Pothan Kemhan, BPPT, ITB, dan PT Dirgantara Indonesia (Persero). Nantinya, pesawar ini akan dioperasikan oleh TNI AU. Ia menambhakan, proses perancangan dimulai dengan kegiatan preliminary design, basic design dengan pembuatan dua kali model terowongan angin dan hasil ujinya di tahun 2016 dan tahun 2018 di BPPT, serta pembuatan engineering document and drawing tahun 2017 dengan anggaran dari Balitbang Kemhan dan BPPT.
Kemudian , pada tahun 2017 telah terbentuk perjanjian bersama berupa Konsorsium Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA MALE) dengan anggota yang terdiri dari Kementerian Pertahanan RI yaitu Ditjen Pothan dan Balitbang, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), TNI AU (Dislitbangau), Institut Teknologi Bandung/ITB (FTMD), BUMN yaitu PT Dirgantara Indonesia (Persero) dan PT Len Industri (Persero). Di tahun 2019 ini Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) masuk sebagai anggota konsorsium tersebut. Tahun 2019 dimulai tahap manufacturing yang diawali oleh proses design structure, perhitungan finite element method, pembuatan gambar 3D, dan detail drawing 2D yang dikerjakan oleh engineer BPPT dan disupervisi oleh PT Dirgantara Indonesia (Persero).
